Oleh: I MADE SUJAYA
![]() |
| Ketut Dharma bersama anaknya di depan gubuk reot yang dijadikan tempat tinggalnya. |
Kuta selalu identik dengan kemakmuran. Jika menyebut berasal dari Kuta, persepsi orang melayang pada sosok orang berpunya yang saban hari menambang dolar.
Namun, jarang yang tahu, di tengah gemerlap kemajuan pariwisata Kuta masih ada warga asli yang berkubang dalam kemiskinan. Ketut Dharma (40), warga Banjar Pengabetan bertahun-tahun tinggal di rumah yang tak layak huni di atas lahan yang luasnya tak lebih dari 1 are.
Kamis, 24 Juli 2008 siang, kawasan Kuta sedang sibuk-sibuknya. Di sebuah gang sempit di lingkungan Banjar Pengabetan, Kuta, seorang lelaki agak kurus sedang beristirahat di rumahnya yang berdinding setengah batako dan setengah gedek. Dua orang anaknya sedang bermain bersama teman-temannya di halaman rumah yang lebarnya tak lebih dari 2 meter.
Itulah Ketut Dharma, seorang warga asli Kuta yang hingga kini terlebit kemiskinan. Bertahun-tahun Dharma tinggal di rumahnya yang jauh dari syarat layak huni itu. Ada tiga unit bangunan utama di rumah tersebut. Satu unit di sisi utara yang menjadi tempat tidur bersama Dharma, istrinya, Ni Wayan Rusni (35) serta ketiga anaknya, Wayan Sudiarta (14), Made Putrayasa (6) dan Nyoman Suryani (4). Luas bangunannya tak lebih dari 3 x 4 meter.
Ada sebuah televisi kecil di sisi barat ruangan yang menjadi satu-satunya hiburan bagi Dharma dan keluarga. Di sisi selatan ada sebuah unit bangunan lagi dengan tiga kamar yang masing-masing berukuran sekitar 3 X 3 meter. Sudah berdinding batako tetapi atapnya sudah bocor dan lapuk serta lantainya masih berupa tanah. Ketiga kamar itu pun praktis tak bisa dimanfaatkan.
“Satu kamar bisa digunakan untuk tidur, tetapi jarang digunakan,” kata Dharma.
Di sisi barat menghadap ke timur berdiri sebuah bangunan kecil berukuran 1,5 x 2 meter yang digunakan sebagai dapur. Setengah dindingnya terbuat dari batako tetapi setengah dinding hingga ke atas hanya menggunakan bambu. Atapnya dari genteng tetapi banyak bolong karena banyak genteng jatuh.
Di pojok barat daya berdiri kamar mandi untuk keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Di pojok timur laut, berdiri sanggah sederhana lengkap dengan kemulan.
“Ini memang rumah tua,” kata Dharma.
Pernah Punya Lahan Luas
Dharma tak pernah membayangkan keadaannya akan seperti sekarang. Pasalnya dulu ayahnya memiliki lahan cukup luas. Lahan tempat berdirinya Banjar Pengabetan di Jalan Legian dulu merupakan milik orang tuanya.
Dharma sendiri tak mengerti secara jelas bagaimana proses tukar-menukar atau pun jual-beli tanah milik orang tuanya hingga yang tersisa kini hanya lahan yang luasnya tak lebih dari 1 are dan di gang sempit, beberapa meter di sebelah timur banjar. Mirisnya lagi, rumah yang ditinggalinya tak lebih dari sebuah gubuk reot.
Sementara di kanan-kirinya berdiri menjulang rumah-rumah tetangganya yang megah. Dharma pernah mencoba merenovasi salah satu bangunan di rumahnya sekitar tahun 2002 lalu. Baru selesai membuat dinding, bom keburu meledak. Harapannya untuk memerbaiki rumah pun ikut hancur. Dharma pun menjadi tak berdaya.
Dengan pekerjaan tidak tetap sebagai tukang parkir dan istrinya sebagai pedagang buah di pantai, sangat tipis harapan Dharma untuk memerbaiki rumah. “Untuk makan sehari-hari dan sekolah anak-anak pun masih sangat kurang,” tuturnya dengan tatapan menerawang.
***
Jadi Petugas Kebersihan di Kuburan
Hari belum begitu siang. Aktivitas wisata di Kuta baru mulai tampak. Di setra bajang (kuburan untuk anak-anak) milik Desa Adat Kuta di lingkungan Pemamoran, Ketut Dharma terlihat suntuk menyapu dan memunguti aneka sampah yang mengotori tempat itu. Itulah aktivitas keseharian Ketut Dharma sejak sebulan terakhir, sebagai petugas kebersihan kuburan.
“Tiang baru sebulan menjalani pekerjaan ini,” tutur Dharma.
Pekerjaan sebagai petugas kebersihan kuburan ini diberikan Bendesa Adat Kuta, IGK Sudira sebagai keprihatinan atas kondisi Dharma. Pasalnya, pekerjaan sebelumnya sebagai juru parkir yang diberikan Lembaga Pemberdayaan masyarakat (LPM) Kelurahan Kuta tidak mampu ditunaikan dengan baik.
“Saya tidak bisa memenuhi target sehingga saya memilih berhenti. Baru kemudian Gung Aji (panggilan IGK Sudira) memberikan saya untuk bersih-bersih di setra bajang,” kata Dharma.
Dengan pekerjaan barunya itu, Dharma hanya bisa mengantongi duit Rp 350.000 sebulan. Jumlah yang tentu saja tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari di kawasan Kuta yang terkenal mahal. Dharma juga tetap melakoni pekerjaan yang telah dijalankan selama ini yakni sebagai pemulung. Hanya saja, hasilnya juga tidak seberapa.
“Seminggu paling hanya dapat Rp 15.000,” ceritanya.
Sudira mengaku agak prihatin melihat Dharma memulung. Karenanya, untuk bisa menambah penghasilannya, Sudira menawarkan pekerjaan sebagai petugas kebersihan kuburan anak-anak.
“Kalau diberikan pekerjaan yang lain, dia tidak mampu. Akhirnya, saya tawarkan untuk mareresik (bersih-bersih) di setra bajang. Dia mau melakoninya,” kata Sudira.
Istri Dharma, Ni Wayan Rusni sangat membantu kebutuhan keluarganya dengan menjadi pedagang buah nenas di Pantai Kuta. Walaupun keuntungannya tidak begitu besar, paling tidak dapat menambal kekurangan pengeluaran sehari-hari.
Selain kebutuhan pokok, Dharma juga mesti memikirkan tiga orang anaknya. Putra pertamanya, Wayan Sudiarta dan Made Putrayasa kini duduk di bangku SD. Sementara anak ketiganya, Nyoman Suryani masih berumur 4 tahun.
Kerap kali Dharma seperti teriris batinnya mendengar anak-anaknya menangis minta dibelikan jajan, sedangkan dirinya tak mengantongi duit sepeser pun.
Bagi Dharma, memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari sudah menjadi beban yang begitu berat. Karenanya, agak sulit baginya untuk berpikir memerbaiki rumahnya agar menjadi lebih layak huni.
Tak keliru jika tokoh Kuta, Jero Mangku Made Suwedja menyatakan masyarakat di pusat wisata itu sejatinya kalah bersaing dan tersisih. Kue pariwisata lebih banyak dinikmati orang luar tinimbang orang lokal.
Ketut Dharma merupakan contoh paling dramatis dari kekalahan bersaing dan ketersisihan orang Kuta itu. Di tengah serbuan pendatang mengais dolar, Dharma hanya mampu menjadi kelompok marginal, di tanah kelahirannya sendiri. (b.)
__________________________________
Foto: I MADE SUJAYA
Penyunting: I KETUT JAGRA








