Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Ala Ayuning Dewasa · 6 Agu 2013 09:29 WITA ·

Sasih Karo: Bulan Penuh Kemuliaan, tapi Kurang Baik untuk Menikah


					Kawasan puncak Gunung Andakasa, Karangasem. Perbesar

Kawasan puncak Gunung Andakasa, Karangasem.

Rabu, 7 Agustus 2013, sistem kalender Bali menandainya sebagai Sasih Karo atau bulan ke dua. Bulan ini ditandai dengan dingin yang begitu menusuk. Jika pada Sasih Kasa musim kering mencapai puncaknya, kini saat Sasih Karo sejumlah pepohonan menggundul, memasuki musim gugur.

Sasih Karo kerap disebut sebagai puncak musim dingin. Karenanya, di daerah-daerah dataran tinggi semisal Besakih, Batukaru, atau pun Kintamani, udara dingin memuncak. Tak salah jika penduduk yang tinggal di daerah-daerah tersebut saban hari menggigil.

Kendati udara terasa begitu dingin, senyatanya Karo masih merupakan musim kemarau. Tanah terbelah karena kekurangan air. Karenanya, para petani yang menanam palawja di sawah saat Sasih kasa mesti mengairinya. Matahari bergeser dari utara ke selatan. Angin bertiup dari barat laut ke barat daya.

Dalam tradisi horoskop Jawa, Sasih Karo dikenal dengan sebutan bantala rengka. Istilah ini mengacu pada kondisi alam dengan tanah berbongkah. Air tak cukup tersedia. Sawah-sawah tadah hujan kian merana. Sangat jarang tanaman yang sanggup bertahan saat Sasih Karo. Hanya tanaman-tanaman keras yang bisa bertahan saat musim ini. Namun, pohon kapuk dan mangga mulai keluar daun mudanya.

Kendati kondisi alam pada Sasih Karo menunjukkan kegersangan, para penekun susastra di Bali memberi makna istimewa pada sasih yang satu ini. Sasih Karo memiliki sinonim Badrawadha. Kata badrawadha bermakna sebagai ‘nilai-nilai mulia’. Karenanya, Sasih Karo sering pula dimaknai sebagai bulan penuh kemuliaan.

Memang, dalam tradisi masyarakat Hindu di Bali, Purnama Karo yang jatuh pada 21 Agustus 2013 mendatang, dilaksanakan aci pangenteg jagat di Pura Gelap, Besakih. Ini merupakan sebuah ritus yang dipersembahkan kepada Tuhan dalam manifestasi sebagai Dewa Iswara untuk memohon agar alam beserta isinya mencapai ketenangan, kedamaian, keajegan atau enteg.

Dalam tradisi Bali, sasih dianggap memiliki dua sisi yang saling berdampingan. Ada pengaruh baik, ada pula pengaruh buruk. Sasih Karo juga tak luput dari hukum dualitas itu. Sasih Karo dianggap memiliki pengaruh baik, tetapi juga membawa pengaruh buruk. Karenanya, pilihan aktivitas, terutama ritual, semestinya diperhitungkan matang dalam bentang waktu Sasih Karo ini.

Sasih Karo dianggap sebagai bulan yang kurang baik untuk nganten. Menurut tenung wariga, jika melangsungkan perkawinan pada Sasih Karo bisa berakibat buruk, bisa sengsara. Karakter alam pada Sasih Karo yang gersang dan diselimuti dingin yang menusuk dianggap berpengaruh pada kedua pasangan yang hendak membangun bahtera rumah tangga sepanjang hidup.

Sasih Karo juga diangap membawa pengaruh buruk untuk kegiatan memperbaiki atau pindah rumah. Diyakini, pada Sasih Karo, hal-hal negatif mengganggu ketenteraman, seperti terjadinya pertengkaran dalam keluarga. Karenanya, jika Anda memiliki rencana memperbaiki atau pindah rumah saat ini, sebaiknya diundur dulu.

Namun, Sasih Karo juga memiliki pengaruh baik untuk kegiatan lain. Misalnya, mendirikan organisasi sosial atau pun menyucikan diri. Karenanya, jika hendak mendirikan sekaa atau perkumpulan, pilihlah Sasih Karo. Purnama Karo kerap disebut sebagai pilihan hari yang tepat untuk kegiatan mengumpulkan orang banyak. (b.)

  • Penulis: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 1,214 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Hari Ini Nyepi Segara di Kusamba, Begini Sejarah, Makna, dan Fungsinya

9 November 2022 - 08:17 WITA

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan
Trending di Desa Mawacara