Menu

Mode Gelap
Kebun Jagung di Beranda Kelas: Catatan dari Pelatihan Menulis bagi Guru dan Siswa SMKN 1 Petang Digelar 23-25 Juli 2024, Rare Bali Festival Usung Tema “Tribute to Made Taro” Mengenang Kembali Dedikasi Maestro I Gusti Nyoman Lempad Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

Bali Jani · 8 Agu 2023 15:57 WITA ·

Baca Puisi Tak Sekadar Intonasi, Tapi Interpretasi: Dari LBP FULP se-Bali 2023


					Salah seorang peserta Lomba Baca Puisi Festival Umbu Landu Paranggi (FULP) 2023 di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP), Minggu, 6 Agustus 2023. Perbesar

Salah seorang peserta Lomba Baca Puisi Festival Umbu Landu Paranggi (FULP) 2023 di Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP), Minggu, 6 Agustus 2023.

Masih banyak yang beranggapan membaca puisi itu mesti dengan intonasi tinggi. Karena itu, kerap terjadi, pembacaan puisi yang mengutamakan intonasi daripada interpretasi. Padahal, membaca puisi tak sekadar intonasi, tapi justru yang jadi kunci adalah interpretasi atas puisi tersebut.

Kecenderungan itu juga masih tampak dalam lomba baca puisi (LBP) serangkaian Festival Umbu Landu Paranggi (FULP) se-Bali tahun 2023 yang diselenggarakan Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP), Minggu, 6 Agustus 2023 di markas JKP, Jl. Cok Agung Tresna 109, Denpasar Timur, Bali.

“Sebagian peserta masih menganggap pembacaan puisi harus heroik sehingga mereka membacakannya dengan intonasi keras atau berteriak dan itu membuat pembacaan jauh dari makna sesungguhnya,” ucap Agung Bawantara.

Agung Bawantara mengungkapkan terjadi banyak kesalahan pemenggalan yang mengaburkan makna dari puisi yang dibacakannya. Hal itu merupakan salah satu akibat dari diutamakannya intonasi daripada interpretasi.

Puisi-puisi Reflektif

Namun, dewan juri yang terdiri dari Sthiraprana Duarsa, Agung Bawantara dan Yenny Agung mengapresiasi upaya keras para peserta untuk menampilkan sajak-sajak Umbu. Sthiraprana Duarsa mengatakan bahwa puisi-puisi Umbu Landu Paranggi adalah puisi-puisi reflektif (permenungan) yang memerlukan interpretasi mendalam dan kesulitan tertentu dalam membacakannya.

“Pada lomba ini para peserta telah bekerja keras melakukan interpretasi dan berhasil, sehingga terjadi kesamaan pembacaan yang membuat dewan juri cukup sulit untuk melakukan penilaian,” ujar Sthiraprana Duarsa.

Lomba ini diikuti oleh 71 peserta dari berbagai umur, dari anak-anak hingga dewasa. Peserta termuda berusia 9 tahun, tertua 59 tahun. Semua peserta dikelompokkan dalam satu kategori, yakni “Kategori Umum”. Peserta memperebutkan “Piala Bergilir Umbu Landu Paranggi”.

“Lomba baca puisi yang digelar JKP ini semacam tarung bebas. Siapa saja boleh ikut serta. Peserta anak-anak beradu dengan peserta dewasa,” ujar Ketua Panitia FULP, Ngurah Arya Dimas Hendratno.

Puisi-puisi yang dipakai sebagai bahan lomba adalah karya Umbu Landu Paranggi, yakni “Melodia”, “Ibunda Tercinta”, “Percakapan Selat”, “Denpasar Selatan, Dari Sebuah Lorong”, dan “Kata Kata Kata”. Setiap peserta hanya membacakan satu puisi.

Piala Tetap dan Piala Bergilir

Setelah melalui diskusi dan perdebatan yang cukup alot, Dewan Juri berhasil memutuskan dan menetapkan juara lomba baca puisi se-Bali 2023, yakni Ni Made Pritalaras T. Masjayanti sebagai juara 1, Ni Wayan Wibuti Febri Andini Lagosa sebagai juara 2, dan Kadek Ayu Suryani sebagai juara 3.

Untuk juara harapan 1 diraih oleh Ni Komang Ayu Apriliani, harapan 2 diraih Komang Adhitana Duta Satyaseva dan harapan 3 diraih oleh I Gst Agung Putu Sri Purnami Padmawati.

Dewan Juri juga memilih enam pembaca puisi berbakat. Mereka adalah I Gusti Ayu Dian Sunyan Tari, Ariska Meylani Eka Putri, I Putu Radha Prajna Dilya Putra, Ni Kadek Amai Labbita Singgi, Putu Masya Devani Putri  dan Putu Putri Adelia Savitri.

Juara 1, 2, 3 akan mendapatkan piala tetap, piagam, uang tunai, dan bingkisan menarik. Sementara itu, Juara Harapan 1, 2, 3 akan mendapatkan piala tetap, piagam, dan bingkisan menarik. Enam Pembaca Puisi Berbakat akan mendapatkan piagam dan bingkisan menarik dari panitia.

Khusus untuk Juara 1 akan mendapatkan Piala Bergilir Umbu Landu Paranggi. Piala bergilir hanya boleh dimiliki selama setahun dan wajib dikembalikan ke sekretariat JKP pada bulan Juli 2024 untuk diperebutkan kembali.

“Penyerahan hadiah kepada para juara akan dilaksanakan pada saat penutupan FULP hari Minggu, 20 Agustus 2023, pk. 18.00 wita di markas JKP,” ujar Ketua Panitia FULP, Ngurah Arya Dimas Hendratno. (b.)

  • Laporan: Jagadhita
  • Foto: JKP
  • Penyunting: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 94 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Digelar 23-25 Juli 2024, Rare Bali Festival Usung Tema “Tribute to Made Taro”

27 Juni 2024 - 22:23 WITA

Mengenang Kembali Dedikasi Maestro I Gusti Nyoman Lempad

27 Juni 2024 - 21:18 WITA

Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

26 Februari 2024 - 15:18 WITA

Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta

23 Februari 2024 - 23:22 WITA

SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali

17 Februari 2024 - 18:57 WITA

Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

2 Januari 2024 - 22:14 WITA

Trending di Bali Jani