Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bale Bengong · 25 Mar 2023 09:17 WITA ·

Menguak Hegemoni Teks Ilmiah di Kampus: Catatan Safari Literasi di UPMI Bali


					Menguak Hegemoni Teks Ilmiah di Kampus: Catatan Safari Literasi di UPMI Bali Perbesar

Oleh I Wayan Artika

Kampus sementara ini tampaknya dipandang sudah memiliki budaya literasi. Mungkin ini ada benarnya. Gerakan literasi identik dengan sekolah. Belum ada gerakan literasi kampus. Dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN), kampus diharapkan menjadi motor. Dosen dan mahasiswa bisa merencanakan berbagai model praktik baik literasi. Kampus mengambil peran dalam pengkajian-pengkajian kebijakan literasi dan implementasinya dalam berbagai bentuk gerakan baik di keluarga masyarakat maupun di sekolah.

Namun demikian, safari literasi yang diinisiasi Komunitas Desa Belajar Bali Desa Batungsel juga masuk kampus bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali. Kegiatan yang bertajuk “Bedah Buku dan Berbagi Proses Kreatif  Buku Proses Kreatif dan Cerpen Saya Karya I Wayan Artika itu digelar di auditorium Redha Gunawan Kampus UPMI Bali, Sabtu, 4 Maret 2023. Kegiatan ini di bawah bimbingan dosen UPMI Bali sekaligus praktisi jurnalistik, I Made Adnyana.

Suasana diskusi safari literasi di UPMI Bali, 4 Maret 2023.

Persoalan yang muncul dalam kegiatan safari literasi kampus ini, di antaranya mahasiswa memiliki keinginan untuk menulis namun mereka masih mengalami berbagai hambatan. Diskusi-diskusi untuk menanggapi pertanyaan peserta bermula dari pengalaman-pengalaman pribadi dalam menulis yang dilakukan oleh para mahasiswa. Dari kegiatan safari literasi di kampus ini terasa berbeda iklim literasinya ketimbang iklim di SMP dan SMA. Literasi di SMP dan SMA masih berada pada persoalan yang sangat mendasar, yaitu kegemaran membaca yang sangat rendah.

Dari perjalanan literasi ini bisa disimpulkan bahwa siswa dan guru tidak memiliki waktu untuk membaca secara mandiri. Karena itulah wawasan siswa sangat terbatas pada mata pelajaran semata. Produksi karya berupa buku pada gerakan literasi di sekolah memang masih jauh. Sangat sedikit atau bahkan jarang sekali siswa yang memiliki kegiatan menulis. Di kampus mahasiswa sudah memasuki tahapan literasi yang lebih tinggi. Hal ini tentu tidak terlepas dari budaya akademik.

Budaya akademik kampus identik dengan membaca dan menulis. Itu semua berkaitan dengan bidang ilmu yang dipelajari oleh mahasiswa. Dosen membaca dan menulis berbagai karya ilmiah. Demikian pula halnya dengan mahasiswa. Dari aspek itu tentu saja literasi di kampus telah tumbuh.

Budaya akademik kampus adalah aktivitas ilmiah yang berbasis pada kegiatan membaca dan menulis. Membaca berbagai literatur terkait erat dengan kegiatan pokok belajar. Membaca merupakan pintu akses untuk mendapatkan pengetahuan yang juga mungkin sudah sebagian disampaikan oleh dosen.

Dari segi ini kehidupan kampus sejalan dengan konsep literasi. Di kampus berkembang kesadaran untuk menambah pengetahuan dengan cara membaca dan meneliti. Kegiatan lain literasi kampus adalah menulis hasil-hasil penelitian sesuai dengan bidang ilmu dosen dan karena itulah maka literasi kampus adalah literasi akademik yang wajib terjadi.

Apa yang dilakukan oleh masyarakat ilmiah seperti mahasiswa dan dosen yang sehari-hari membaca buku dan menulis ditambah lagi mengikuti forum ilmiah, maka inilah literasi yang identik dengan cara untuk mencapai tujuan dalam belajar di perguruan tinggi.

Namun safari literasi ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menyasar kehidupan literasi mahasiswa di kampus. Masih menjadi pertanyaan besar, apakah mahasiswa dan dosen menyelenggarakan praktik baik literasi di luar disiplin ilmunya? Inilah yang diabaikan di dalam kehidupan literasi kampus.

Mahasiswa dan dosen memang menyelenggarakan praktik baik literasi namun semua itu semata-mata terkait dengan tujuan belajar. Memang di luar ini telah dikembangkan kegiatan-kegiatan atau forum-forum untuk memperkaya wawasan namun ini pun sejatinya masih dalam bingkai belajar atau kuliah. Mahasiswa pun akhirnya hanya terbiasa dengan teks ilmiah. Begitu pula para dosen.

Literasi kampus selalu berkaitan dengan ilmu dan teori. Literasi kampus yang demikian membentuk kondisi mahasiswa yang monoteks. Kehidupan mahasiswa dan dosen dihegemoni oleh teks-teks ilmiah. Genre teks yang berkembang di kampus adalah genre teks ilmiah dengan berbagai varian seperti makalah, jurnal, artikel jurnal, buku referensi.

Keadaan ini memang sulit didobrak. Teks-teks ilmiah itu mendapat tempat sedemikian tinggi di kampus. Belenggu teks ilmiah ini menyebabkan mahasiswa kehilangan kemerdekaannya dalam mengarungi berbagai genre teks. Mahasiswa memang menulis dan membaca namun semuanya itu dalam bingkai formal. Mahasiswa akhirnya memahami bahwa tidak ada teks lain selain teks ilmiah.

Safari literasi di kampus UPMI Bali di Denpasar mencoba menghadirkan teks dari khazanah sastra. Di dalam forum ini mahasiswa tidak sedang membaca atau mengikuti paparan mengenai teori atau konsep. Forum Safari literasi ini mengajak mahasiswa mengenal teks subversinya teks ilmiah, yaitu karya sastra dan lebih khusus lagi cerpen. Mahasiswa memang sangat jarang keluar dari belenggu teks ilmiah. Karena itu mereka memandang teks di luar teks ilmiah itu tidak ada.

Berbicara literasi kampus kemudian adalah berbicara berbagai ragam teks. Dalam aneka ragam teks itulah pengetahuan disembunyikan dan membaca sebagai sebuah kegiatan pokok dalam literasi adalah jalan untuk menguak rahasia itu.

Tapi teks ilmiah telah sejak lama merenggut kebebasan dan kemerdekaan mahasiswa dan dosen terhadap teks. Artinya, mahasiswa dan dosen, anggota masyarakat ilmiah lainnya, masyarakat kampus tidak memiliki kemerdekaan teks. Mereka hanya terbiasa hanya dengan teks ilmiah. Arti penting safari literasi ini adalah membebaskan mahasiswa dari belenggu teks ilmiah.

Kegiatan ini mencoba untuk menjatuhkan teks-teks kanon yang dalam hal ini sama artinya dengan teks ilmiah dengan berbagai variannya. Cerpen yang dihadirkan di sini sebagai salah satu genre teks akan membuka wawasan mahasiswa mengenai dunia yang multi genre teks. Cerpen hanya salah satu genre. Masih ada berbagai jenis teks lainnya. Yang menarik adalah memang ada mahasiswa yang memiliki wawasan teks yang lebih bervariasi namun kekuatan teks ilmiah masih belum sanggup menyeimbangkan bagaimana mahasiswa bisa memiliki teks yang beragam.

Kegiatan literasi di kampus adalah usaha untuk membantu mahasiswa menjadi insan-insan yang memiliki wawasan teks yang lebih luas yang tidak hanya dibelenggu oleh teks ilmiah. Mahasiswa tidak cukup mengenal satu teks ilmiah saja tetapi mereka juga berhadapan dengan berbagai teks dan salah satunya adalah karya sastra. Kegiatan ini bisa dikatakan sebagai pengalihan wacana teks dari teks ilmiah ke teks lainnya seperti fiksi, biografi, iklan, prosa lirik, dan sebagainya.

Dari perjalanan literasi ini dapat dirumuskan catatan-catatan penting terkait dengan literasi kampus. Literasi kampus tentu saja literasi yang bersifat ilmiah. Literasi kampus yang ilmiah itu ibarat menara gading yang menjulang dipuja oleh dosen dan mahasiswa. Teks-teks lain di luar teks ilmiah dipandang lebih rendah. Karena itu teks yang bukan ilmiah tidak mendapat tempat. Memang masih harus bersyukur karena di beberapa kampus, sastra mendapat tempat yang layak namun tempat ini berkaitan dengan pembangunan teori yang ujung-ujungnya juga adalah pada literasi kampus yang sama artinya dengan literasi ilmiah.

Apakah semua mahasiswa masuk ke dalam cengkraman teks ilmiah. Dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di dalam forum safari literasi kampus kali ini dapat ditemukan bahwa ada mahasiswa yang memang ditarik keluar dari teks ilmiah seperti esai, cerpen, dan novel. Tumbuh keinginan untuk membaca cerpen, novel, atau puisi.

Lebih jauh dari keinginan ini; mereka pun ingin belajar menulis sastra sebagaimana selama ini mereka dibentuk secara teknik dalam menulis ilmiah. Tapi mereka pada umumnya mandeg dalam penulisan fiksi. Di dalam forum ini terungkap kesadaran kembali kepada teks fiksi. Mereka mempertanyakan bagaimana caranya nulis fiksi. Ini sejalan dengan tema pemantik dalam safari literasi ini: proses kreatif.

Proses kreatif adalah bagaimana tulisan-tulisan kreatif itu dihasilkan oleh pengarangnya. Safari literasi kampus ini, di samping membantu mahasiswa, peserta, untuk keluar dari komunitasnya juga sekaligus mengajak mahasiswa untuk bercermin pada salah satu proses dalam melahirkan teks fiksi. Mahasiswa tidak hanya berurusan dengan teks ilmiah. Lewat forum ini mahasiswa juga dapat mengembangkan diri dalam teks nonilmiah.

Persoalan literasi di kampus adalah persoalan hegemoni teks. Apakah gerakan literasi kampus akan bisa mengalihkan perhatian dari teks ilmiah ke teks fiksi. Tantangan dalam pengembangan literasi kampus adalah membebaskan mahasiswa dari cengkraman teks ilmiah sehingga akan terjadi dekanonisasi teks.

Mahasiswa tidak lagi hanya memandang betapa mulia dan satu-satunya teks ilmiah karena lewat forum ini mahasiswa diajak berpikir bahwa tidak ada teks kanon. Mahasiswa bisa mendapat pengetahuan dari berbagai teks. Mahasiswa juga bisa menyampaikan pengetahuannya dalam bentuk berbagai teks tidak hanya teks ilmiah tetapi juga bisa menggunakan puisi, lirik, esai, opini populer.

Media teks tidak akan mengurangi kadar ilmiahnya. Kadar keilmiahan suatu teks adalah esensial dan pilihan media teks untuk menyampaikannya adalah representasi gaya bahasa dan teknik menulis. Mungkin bisa memandang bahwa secara umum literasi kampus tidak memiliki persoalan jika dibandingkan atau dipandang dengan menggunakan perspektif gerakan literasi sekolah. Itu semua tentu saja karena memang ciri khas kehidupan kampus yang akademik dan ilmiah mau tidak mau harus berdasar pada aktivitas literasi. Aktivitas ini terdiri atas dua kegiatan utama: membaca dan menulis.

Di dalam kedua kegiatan itulah nalar bekerja. Kegiatan literasi kampus ini memberikan dampak positif pada perubahan pikiran mahasiswa mengenai paradigma teks yang dikotomik dan keberpihakan mahasiswa pada salah satu teks yaitu teks ilmiah. Hegomoni teks ilmiah pada diri mahasiswa dan dosen menyebabkan mereka membunuh berbagai jenis teks.

Safari literasi ini memberi sumbangan atau catatan kepada pengembangan literasi kampus agar mahasiswa dan dosen lebih memperkaya diri dengan teks fiksi. Di sini ada satu asumsi bahwa kalangan kampus tidak sampai hati merendahkan teks fiksi yang penuh dengan imajinasi dan subjektif.

  • Penulis merupakan akademisi di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, pendiri Komunitas Desa Belajar Bali di Desa Batungsel serta penggerak literasi. 
Artikel ini telah dibaca 122 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur

2 Mei 2024 - 05:35 WITA

Konservasi Pemikiran dan Budaya Melalui Gerakan Literasi Akar Rumput

21 Desember 2023 - 05:06 WITA

Bertapa Kata-kata di Era Media Sosial [Renungan Hari Saraswati]

20 Mei 2023 - 06:10 WITA

Literasi di Tengah Tantangan Ekonomi Orang Tua Siswa: Catatan Safari Literasi Akar Rumput di Jembrana

14 Mei 2023 - 11:40 WITA

Menggiring Bebek: Catatan dari Sebuah Lomba Menulis Esai

12 Desember 2022 - 18:39 WITA

Sekeping Kisah Guru dari Kaki Gunung Batukaru

25 November 2022 - 16:30 WITA

Trending di Bale Bengong