Menu

Mode Gelap
Kebun Jagung di Beranda Kelas: Catatan dari Pelatihan Menulis bagi Guru dan Siswa SMKN 1 Petang Digelar 23-25 Juli 2024, Rare Bali Festival Usung Tema “Tribute to Made Taro” Mengenang Kembali Dedikasi Maestro I Gusti Nyoman Lempad Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

Bali Jani · 1 Jan 2023 22:05 WITA ·

Kembalinya Nama Desa Dapdap Putih


					Peresmian kembalinya nama Desa Dapdap Putih, Minggu, 1 Januari 2023. Perbesar

Peresmian kembalinya nama Desa Dapdap Putih, Minggu, 1 Januari 2023.

Sebelum tahun 1996, para penumpang bus angkutan kota dalam provinsi (AKDP) di Bali, begitu akrab dengan bus Manis jurusan Dapdap Putih-Klungkung-Amlapura atau bus Putrajaya jurusan Negara-Dapdap Putih-Banyuasri (Buleleng). Dapdap Putih kala itu merujuk kepada nama desa di ujung selatan Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabanan dan Jembrana. Bus-bus itu biasanya akan berhenti menurunkan maupun menaikkan penumpang di Pasar Desa Dapdap Putih yang sekaligus berfungsi sebagai terminal.

Namun, entah kenapa, pada tahun 1996, pemerintah mengubah nama Desa Dapdap Putih menjadi Desa Tista. Perubahan itu diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Tingkat II Kabupaten Buleleng Nomor  9 Tahun 1996  tentang  Pembentukan Tiga Desa Adat atau Pakraman, yaitu Desa Pakraman Tista, Desa Pakraman Munduk Mengenu dan  Desa Pakraman Munduk Tengah. Pada saat itu pula terjadi pula perubahan nama Desa Dinas Dapdap Putih menjadi Desa Dinas Tista yang mewilayahi ketiga desa adat atau desa pakraman tersebut.

Meski berubah nama menjadi Desa Tista, warga setempat pada kenyataannya tetap menggunakan nama Desa Dapdap Putih. Warga tampaknya sudah nyaman dan lebih sreg menggunakan nama Desa Dapdap Putih. Terlebih lagi, nama Desa Tista kerap menimbulkan kekeliruan karena Tista juga digunakan di desa lain, seperti Desa Tista di Karangasem, Tabanan dan bahkan di Buleleng sendiri, yakni di Desa Adat Baktiseraga juga ada Desa Adat Tista.

Akhirnya, awal tahun 2023 ini menjadi tonggak penting kembalinya nama Desa Dapdap Putih. Minggu, 1 Januari 2023, warga setempat meresmikan nama desanya menjadi Desa Dapdap Putih menggantikan nama Desa Tista. Penetapan nama tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 100.116117 Tahun 2022, tanggal 9 November 2022.

Warga menyambut momen ini dengan bahagia dan rasa syukur yang penuh. Penjor dipancangkan di gerbang rumah warga di sepanjang jalan desa. Ritual sebagai ungkapan rasa syukur digelar di sejumlah pura penting di desa itu. Desa penghasil kopi dan salak gula dengan luas wilayah 912 kilometer persegi serta berpenduduk 4.640 jiwa itu menyambut kembalinya nama desa mereka dengan bahagia.

Kepala Desa Dapdap Putih, I Gede Marjaya menerangkan pergantian panjang nama Desa dilakukan warga masyarakat bersama para pengurus adat dengan mengajukan permohonan pergantian nama ke pemerintah pusat melalui Mendagri. “Astungkara, atas dukungan seluruh masyarakat, nama Desa Dapdap Putih kembali digunakan sebagai nama desa yang memiliki sejarah penting mewarisi jejak leluhur yang harus dilestarikan,” terang Marjaya di sela-sela acara peresmian nama Desa Dapdap Putih.

Pihaknya mengungkapkan, Desa Dapdap Putih memiliki empat banjar dinas, yaitu Banjar Dinas Tista, Banjar Dinas Munduk Mengenu, Banjar Dinas Munduk Tengah, dan Banjar Dinas Penataran serta tiga desa adat, yakni Desa Adat Desa Adat Tista, Desa Adat Munduk Mengenu, dan Desa Adat Munduk Tengah.

Jejak Rsi Markandeya

Marjaya yang didampingi ketiga bendesa adat, masing-masing Bendesa Adat Tista, I Nyoman Astawa; Bendesa Adat Munduk Mengenu, I Nyoman Sandi dan Bendesa Adat Munduk Tengah, I Nyoman Suija menerangkan selain karena nama Tista menimbulkan kerancuan, pengembalian nama Desa Dapdap Putih juga karena pertimbangan sejarah desa. Desa Dapdap Putih menyimpan jejak bersejarah perjalanan Ida Rsi Markandya sesuai yang tersurat dalam lontar Batur Kelawasan Petak dan lontal Bhuwana Tattwa Maharsi Markandheya.  Selain itu, terdapat juga situs-situs yang ditinggalkan tokoh yang disucikan umat Hindu di Bali itu

Dalam kedua naskah tersebut diceritakan bahwa pada awal abad ke-18 Masehi, datanglah seorang rsi agung bernama Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Madura ke hutan Besturi di Desa Sepang untuk napak tilas perjalanan (ngetut pamargin) moksa Ida Maharsi Markandheya di Gunung Bhujangga (Gunung Patas).

Beberapa lama waktunya, sang rsi agung melakukan yoga semadi di Sepang lalu  membangun tempat pemujaan Tuhan di hutan Besturi dan panyiwian tirtha sudamala di Tukad Mesiwi (Madewi). Kemudian sang rsi juga membangun pura pemujaan Maharsi Markandheya di Asah Danu yang diberi nama Pura Kahyangan Maharsi Markandheya.

Suatu ketika, Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Madura berkenan meneruskan perjalanan dharma yatra dan tiba di hulu sebuah sungai (Yeh Leh) di tengah hutan rimba. Di sana  sang rsi melakukan puja semadhi dan menempatkan lima buah batu sebagai taulan (tanda). Di kemudian hari oleh masyarakat Dapdap Putih, di tempat sang rsi agung melakukan puja semadi tersebut didirikan sebuah pura yang dikenal dengan nama Pura Taulan. Pura tersebut hingga kini di-sungsung oleh masyarakat Desa Adat Tista.  Pura tersebut berdampingan dengan Pura Subak Gunung Renga, milik masyarakat Desa Adat Munduk Mengenu.

Diceritakan pula, konon ada beberapa pemburu dari kelompok Warga Pasek Tangkas dari Desa Bujak (Sepang) yang bertujuan berburu kijang. Sang pemburu secara tidak sengaja mengalami suatu musibah. Atas petunjuk niskala, pemburu tersebut diharuskan menghaturkan upacara maguru piduka di suatu tempat suci yang terdapat batu taulan di hulu sebuah sungai yang merupakan sebuah petilasan Ida Rsi Madura. Sebelumnya diketahui bahwa Ida Rsi melakukan perjalanan menyusuri Tukad Panghyangan menuju selatan.

Karena itu, kelompok pemburu tersebut mencari batu taulan tersebut di sekitar hulu Tukad Panghyangan. Lama dicari-cari, batu taulan tersebut tidak diketemukan. Dalam keputusasaan, para pemburu secara kebetulan berjumpa seorang suci bernama Ida Mpu Dada Putih, dari Desa Gumuk Kancil, daerah Banyuwangi, yang datang ke Alas Besturi, untuk napak tilas Pemoksan Ida Maharsi Markandheya.

Sang Rsi memberi petunjuk bahwa upacara maguru piduka tersebut dapat dilakukan di tempat yang dirasa cukup baik, dengan membuat turus lumbung dari pohon dapdap (Erythrina subumbrans), sebagai penyawangan batu taulan dimaksud.

Ternyata pohon dapdap tersebut tumbuh subur dan berbunga putih. Di kemudian hari, di tempat penyawangan ini, dibangun oleh masyarakat  sebagai tempat suci penyiwian widhi, yang diberi nama Pura Kahyangan Dapdap Putih. Inilah cikal bakal nama Dapdap Putih yang kini kembali diabadikan sebagai nama desa.

  • Laporan: I Made Radheya
  • Foto: I Made Radheya
  • Penyunting: I Made Jagra
Artikel ini telah dibaca 224 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Digelar 23-25 Juli 2024, Rare Bali Festival Usung Tema “Tribute to Made Taro”

27 Juni 2024 - 22:23 WITA

Mengenang Kembali Dedikasi Maestro I Gusti Nyoman Lempad

27 Juni 2024 - 21:18 WITA

Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

26 Februari 2024 - 15:18 WITA

Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta

23 Februari 2024 - 23:22 WITA

SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali

17 Februari 2024 - 18:57 WITA

Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

2 Januari 2024 - 22:14 WITA

Trending di Bali Jani