Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Jani · 24 Jun 2022 12:18 WITA ·

Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih


					Pemukiman penduduk Desa Demulih yang tampak dari ketinggian bukit.  (balisaja.com/tim riset Sitadewiku) Perbesar

Pemukiman penduduk Desa Demulih yang tampak dari ketinggian bukit. (balisaja.com/tim riset Sitadewiku)

Anak tangga yang biasa digunakan sebagai akses oleh warga menuju puncak bukit Desa Demulih, Bangli. (balisaja.com/tim riset Sitadewiku)

Tangga Menuju Surga

Kami terpesona dengan keindahan yang ditawarkan oleh alam di sekitr kami, kami sangat menikmatinya. Kami pun bersembahyang di Pura Taman sebelum naik menuju puncak bukit. Tangga menuju bukit terlihat sangat indah dari bawah, bagaikan tangga menuju surga. Namun nyatanya sangat melelahkan menjajaki anak tangga tersebut.

Baru di pertengahan perjalanan nafas kami sepertinya berirama dan saling bersahutan menandakan bahwa kami semua kelelahan. Beberapa kali penduduk asli di sana yang mendampingi kami menertawakan kami yang kelelahan. “Perlu saya gendong ini untuk naik,” candanya.

Kicauan burung menemani setiap langkah kami. Setiap langkah kaki merupakan pijakan pertama kami di Bukit Demulih. Apa yang kami saksikan tentunya semakin meyakinkan kami bahwa tempat ini memang sangat cocok untuk dijadikan tempat koservasi burung.

Saat hampir sampai di puncak, salah satu dari kami tak sanggup lagi untuk terus berjalan, sehingga harus duduk dan berisitirahat beberapa saat. Air minumnya tertinggal, nafasnya tersengal-sengal membuktikan bahwa ia benar-benar kelelahan. Kami menertawakan diri kami yang sangat kelelahan mendaki bukit tersebut padahal medannya tidak begitu sulit. Namun, karena kami jarang berjalan kaki maka terjadilah hal seperti ini.

Penduduk yang menemani kami lagi-lagi tertawa melihat kami semua yang kelelahan. “Masak jalan segini aja udah hampir pingsan, saya lari bolak balik biasa di sini,” katanya menggoda kami. Kami pun tertawa bersama.

Di atas bukit ternyata terdapat tiga buah pura yang disebut dengan Pura Pucak. Masyarakat setempat percaya pada zaman dahulu pura itu merupakan tempat untuk bertapa dan mendapatkan pengetahuan sepiritual. Namun, saat ini sudah dijadikan tempat persembahyangan umum.

Salah satu dari kami ternyata disambut dengan aura kesakralan lainya, mencium aroma yang sangat wangi di bukit tersebut. Namun, dia tidak mengatakan kepada siapa pun saat menciumnya. Pada saat sampai di bawah dia baru memberitahu kami. Mungkin itu adalah pertanda juga bahwa kehadiran kami disambut baik.

Menuruni Bukit

Salah satu dari kami mengalami kelelahan yang luar biasa sehingga harus duduk beberapa saat untuk beristirahat dan meminum air agar bisa melanjutkan perjalanan. (balisaja.com/tim riset Sitadewiku)

Setelah menjajaki bukit sekitar 1 jam, kami kembali ke bawah. Saat menuruni anak tangga ternyata mengerikan juga karena lumayan curam. Kami berpegangan pada tiang pinggir tangga agar tidak tergelincir dan jatuh.

Saat kembali pun kami masih ditemani kicauan burung-burung dengan berbagai jenis suara. Namun sayang sekali kami tidak bisa melihat secara langsung saat mereka berkicau.

Kami kembali berjalan menuju permukiman. Kaki mulai sedikit lemas, langkah kami makin pendek. Pandangan kami teralihkan saat salah satu dari kami melihat sebuah kungkungan atau sarang lebah buatan. Ternyata masih banyak dari kami yang tidak mengetahui bahwa itu adalah sebuah sarang lebah buatan.

Sungguh kami menemukan berbagai hal baru dalam perjalanan ini. Kawasan suci  hutan adat Desa Demulih menyimpan berbagai hal menarik yang membuat kami penasaran.

Jejak kaki kami sudah tertinggal di hutan adat tersebut. Kami akan kembali lagi menjajakinya dan mencari tahu rahasia apalagi yang ada di balik Desa Demulih tersebut. Tentunya saat kembali akan ada cerita lain yang tak kalah seru.

  • Laporan: Putu Artiasih
  • Penulis yang biasa dipanggil Tia ini lahir di Singaraja, 15 Maret 2001. Saat ini merupakan seorang mahasiswa semester VI di Program Studi S1 Sastra Inggris, Fakultas Bahasa Asing, Universitas Mahasaraswati Denpasar.
Artikel ini telah dibaca 362 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani