Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Keto Kone · 15 Mei 2021 22:02 WITA ·

Bunyikan Klakson Saat Melintasi Jembatan


					Bunyikan Klakson Saat Melintasi Jembatan Perbesar

Mobil memasuki sebuah jembatan.
Akhir pekan, Putu Surya dan Ketut Candra mengisinya dengan jalan-jalan mengunjugi desa-desa kuno di Bangli. Ada tugas kuliah di kampusnya yang mengharuskan dia mengunjungi desa-desa tua itu. Mereka memilih Bayung Gede, sebuah desa kuno di dataran Kintamani.

Perjalanan pun dimulai. Surya yang nyetir. Walaupun, Surya baru tiga bulan bisa nyetir. Awalnya, Candra yang hendak nyetir. Tapi, Surya ngotot minta agar dia yang nyetir, sekalian memahirkan kemampuannya.

Karena Surya belum terampil benar nyetir, laju kendaraan agak lambat. Berkali-kali Candra menegur agar Surya tak terlalu lambat. Candra juga agak terganggu ketika Surya sering membunyikan klakson. Yang mengganggu Candra, tiap kali melewati jembatan, Surya membunyikan klakson sebanyak tiga kali.

“Kok pakai membunyikan klakson segala, Tu?” tanya Candra keheranan.

“Kata ibuku begitu,” kata Surya sembari tetap konsentrasi mengendalikan kendaraan.

“Bah, tahyul. Memangnya kenapa mesti membunyikan klakson? Kalau nggak kenapa?” Candra mengejar.

“Jembatan itu ada penghuninya. Jadi, kita mesti minta izin karena akan lewat di sana. Kalau nggak, kita bisa diganggu. Jangan-jangan jembatan malah berubah jadi dua. Kalau kita tak hati-hati, kita malah lewat jembatan maya, jembatan jadi-jadian. Kita jadi terjerembab ke sungai atau jurang,” beber Surya.

Candra tertawa ngakak. Surya menoleh ke arah Candra sejenak lalu kembali memfokuskan pandangan ke depan.

“Kenapa kamu ketawa? Kamu tak percaya. Sudah ada buktinya. Di jembatan dekat rumahku pernah ada orang jatuh ke sungai karena melihat ada dua jembatan. Dia melewati jembatan maya karena tidak minta izin saat lewat,” Surya mencoba meyakinkan sahabatnya.

“Itu hanya cerita-cerita takhyul, Sur. Nggak usah percaya begituan,” kata Candra menghabiskan sisa tawanya.

“Kalau kamu sudah pernah membuktikannya, baru kamu percaya,” ujar Surya setengah menggerutu.

Perdebatan soal bunyi klakson di jembatan itu tak berlanjut. Pasalnya, mereka sudah sampai di Bayung Gede. Mereka pun turun dari mobil lalu mengelilingi desa berhawa sejuk itu. Mereka bertanya pada orang-orang dan memotret sana-sini. Bayung Gede memang menyimpan banyak keunikan.

Rencananya, mereka mengunjungi Bonyoh. Namun, hari telanjur senja. Keputusannya kemudian, mereka balik ke Denpasar. Dalam perjalanan balik ke Denpasar itu, giliran Candra yang nyetir.

Surya agak protes karena Candra mengendari mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Yang membuat Surya tak nyaman, Candra tak pernah membunyikan klakson setiap kali melewati jembatan.

“Jangan ngampahang, Tut. Nanti bisa celaka,” kata Surya.

Tak dinyana, sampai di salah satu jembatan, tiba-tiba mobil berhenti di tengah jalan. Candra mencoba menghidupkan mesin mobil. Tiada kunjung hidup juga. Mesin mobil dicek. Tak ada yang bermasalah. Surya mulai yakin, ini karena ulah ampah Candra. Sementara hari semakin  gelap.

“Ini karena kamu terlalu ampah. Coba ikuti saranku. Ayo, berdoa, sampaikan permintaan maaf kepada penunggu jembatan ini agar kita tak diganggu,” ajak Surya.

Karena tak tahu penyebab mobil ngadat, Candra ikut saja saran Surya. Mereka duduk di pinggir jembatan dengan tangan dicakupkan di atas kepala. Keduanya berkomat-kamit mengucapkan permintaan maaf.

Lalu Candra kembali menghidupkan mobil. Ajaib, mesin mobil hidup kembali. Keduanya girang. Mereka bisa pulang. Yang paling girang tentu saja Surya. Dia merasa bisa membuktikan kebenaran apa yang diyakininya. Sementara Candra tetap yakin, mesin ngadat karena memang ada yang bermasalah. Hanya saja dia belum ketemu masalahnya itu. (b.)
_____________________________ 

Penulis: Ketut Jagra 
Foto: Istimewa 
Penyunting: I Made Sujaya

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Bantal Dibalik, Mimpi Indah Bisa Berlanjut?

6 Juni 2021 - 00:02 WITA

Tidur “Sandikala” Bisa Disantap Batara Kala?

22 Agustus 2013 - 14:55 WITA

Foto Bertiga bisa Celaka?

15 Maret 2011 - 10:29 WITA

Trending di Keto Kone