Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Iloe · 25 Mei 2021 23:02 WITA ·

“Bulan Pejeng”: Bulan yang Jatuh, Subeng Kebo Iwa atau Mas Kawin?


					Nekara perunggu di Pura Penataran Sasih, Pejeng, Gianyar, yang dalam erita lisan di kalangan masyarakat Bali disebut sebagai 'bulan di pejeng'. (Foto: repro kemudayaan.kemdikbud.go.id) Perbesar

Nekara perunggu di Pura Penataran Sasih, Pejeng, Gianyar, yang dalam erita lisan di kalangan masyarakat Bali disebut sebagai 'bulan di pejeng'. (Foto: repro kemudayaan.kemdikbud.go.id)

Oleh: MAS RUSCITADEWI

Gerhana bulan total kembali terjadi hari ini, Rabu, 26 Mei 2021. Peristiwa alam ini dapat dilihat dari wilayah Indonesia, termasuk di Bali. Gerhana bulan total kali ini terjadi bertepatan dengan Purnama Sadha sekaligus hari raya Waisak. Menurut perhitungan, gerhana bulan dimulai pukul 16.46.1 wita. Puncak gerhana pukul 19.18.6 wita dan berakhir pukul 18.27.9 wita.

Masyarakat Bali mempercayai gerhana bulan bukan sebuah peristiwa biasa. Mereka biasanya mengaitkan gerhana bulan dengan ramalan tentang peristiwa apa yang akan terjadi di dunia.

Masyarakat Bali juga memiliki mitologi gerhana bulan, termasuk mewarisi sebuah legenda tentang bulan yang jatuh di tanah Bali. “Bulan yang jatuh” itu kini tersimpan di Pejeng. Benarkah?

Cerita lisan “Bulan Pejeng” berkisah tentang seorang pencuri sakti yang mengencingi bulan agar bisa dengan leluasa mencuri. Bulan yang dikencingi pencuri itu, konon jatuh di Pejeng.

Bulan yang jatuh itu diidentikkan dengan sebuah nekara perunggu besar. Nekara itu  kini tersimpan di Pura Penataran Sasih di Desa Pejeng Tengah, Pejeng, Gianyar. Kata sasih pada nama pura ini diidentikan dengan bulan.

Tapi, tentu saja cerita nekara perunggu itu bukanlah bulan dalam artian yang sesungguhnya. Bisa saja bulan yang dimaksud adalah seorang gadis yang cantik, putih, dan lembut seperti cahaya bulan.

Bisa jadi yang dimaksud pencuri adalah seorang lelaki yang telah mencuri hati para wanita, yang merasa terganggu dengan kehadiran wanita cantik seperti bulan itu. Mengeincingi si bulan, mungkin maksudnya mengawininya.

Mas Kawin Raja Bali Kuna

Tafsiran-tafsiran seperti ini, rasanya lebih masuk akal karena secara umum nekara perunggu dikenal sebagai mas kawin (benda seserahan untuk ikatan perkawinan). Hal ini juga sangat didukung oleh adanya prasasti-prasasti Bali dari zaman Bali Kuna, yang menyebut raja Jayapangus dengan kedua permaisurinya yang keturunan Dewi Bulan.

Walaupun tak disebutkan dalam prasasti bahwa salah satu permaisuri Jayapangus berasal dari Cina, tetapi sebagian masyarakat Bali meyakini bahwa salah satu permaisuri raja Jayapangus adalah Khang Ching Wie yang berdarah Cina. Kita tahu, kebudayan pengolahan logam dan perunggu di Indonesia dan Bali khususnya berasal dari kebudayaan Dongson, Cina.

Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar dikenal dunia sejak 1705, ketika GE Rumphius berdasarkan penjelasan dari Hendrik Leydekker, menulis mengenai ”Bulan Pejeng” yang sampai sekarang disimpan di Pura Penataran Sasih. Pejeng dikenal dari tulisan  ahli ilmu hayat ini disusul  dengan didirikannya Oudheidkundige Dienst (OD) atau Jawatan Purbakala di Batavia (Jakarta), oleh  Pemerintah Hindia Belanda.

Sejak itu Desa Pejeng dan desa-desa sekitarnya, menjadi sasaran kegiatan Jawatan Purbakala. Salah satu kegiatan Jawatan Purbakala ialah kegiatan Inventarisasi Kepurbakalaan yang dilaksanakan oleh WF Stutterheim (1925-1927).

Dalam inventarisasi peninggalan arkeologis di Pejeng salah satu peninggalanyang penting adalah nekara perunggu yang dikenal dengan sebutan “Bulan Pejeng”, yang sampai kini masih menyisakan misteri, tentang siapa yang membuatnya, untuk apa, dan apa kaitanya denga desa Pejeng.

Selain cerita mengenai bulan yang jatuh akibat dikencingi pencuri, ada juga sumber-sumber tradisional yang menyebut bahwa nekara perunggu itu adalah subeng(hiasan telinga) Kebo Iwa. Kedua cerita tradisional tersebut tentu saja sulit ditarik logikanya.

Fungsi Simbolis-Magis

Tapi yang jelas, berdasarkan hasil-hasil penelitian arkeologi dapat diketahui bahwa “Bulan Pejeng” ini sesungguhnya adalah sebuah nekara  atau bejana. Terbuat dari perunggu yang tingginya 186,5 cm, dengan bidang pukul yang bergaris tengah 160 cm. Nekara ini berisikan hiasan dan salah satu hiasan yang khas. Yang menonjol adalah hiasan kedok muka yang disusun sepasang-sepasang dengan mata bulat membelalak dan memakai anting-anting.

Selain ukurannya yang besar dan tidak biasa, nekara perunggu ini diketahui merupakan hasil teknologi pengolahan logam yang mencapai puncaknya pada zaman perundagian. Sekitar 2000 tahun silam, jauh sebelum pengaruh agama Hindu sampai di Bali.

Para ahli arkeologi berpendapat, hiasan kedok muka ini berfungsi simbolis-magis. Fungsinya sebagai lambang leluhur yang dapat berfungsi sebagai pelindung dan penolak bala. Pendapat-pendapat ini, tentu bisa membantah cerita tentang bulan yang jatuh ke bumi.

Lantas apakah mungkin sebagai hiasan telinga seorang manusia? Tentu saja dalam ukuran yang wajar hal itu tidak masuk akal. Yang agak masuk akal adalah nekara perunggu Pejeng sebagai mas kawin. Tentang kebenaran ini tentu perlu diadakan penelitian lebih lanjut.  (b.)

Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

24 Mei 2022 - 23:12 WITA

Membaca Pesan Perang Jagaraga

9 Juni 2021 - 03:47 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930

Virus Korona dan Jejak “Grubug” di Tanah Bali

28 Januari 2020 - 00:01 WITA

Trending di Bali Iloe