Menu

Mode Gelap
“Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih

Puisi · 22 Mei 2021 07:09 WITA ·

Arjuna Tak Butuh Cinta [Sajak-sajak IBW Widiasa Keniten]


					Arjuna Tak Butuh Cinta [Sajak-sajak IBW Widiasa Keniten] Perbesar

 

Lukisan Arjuna. (balisaja.com/gambar diambil dari sampul buku kumpulan cerpen karya IBW Widiasa Keniten, “Ngalih Arjuna di Kamasan” (Pustaka Ekspresi, 2021)

Arjuna Tak Butuh Cinta

                                                                                                

“Jika cintamu berlabuh pada Arjuna

katakan kesetiaanku padanya

seperti mentari dengan rembulan.”

 

“Jika cintamu kau rawat pada Arjuna

katakan padanya janjinya belum kuraih.”

 

tujuh bidadari itu menitipkan pesannya

pada gunung, pada ranting, pada ilalang, pada embun

yang membasahi hatinya.

 

beribu kisah ia rajut di samudera rindu

yang tiada pernah pupus termakan waktu

setiap jengkal kata terucap, Arjuna

yang menghiasi sunyi hatinya.

 

dikibas-kibaskanlah selendangnya

harumnya menukik membuncah

peluhnya meleleh memecah kalbu

 

“Beri aku senyum

yang meluluhkan dahagaku

jangan kau palingkan wajah

biuslah hatiku dalam balutan rindu.”

 

“Kembalilah Arjuna

mari kita terbang menuju awan putih

di puncak Indrakila kita bercumbu.”

 

tujuh bidadari itu menghitung ranting awan

yang luruh bersama denyut gunung

hatinya membisu bibirnya kelu

 

“Mari kita pulang

Arjuna tak butuh cinta

cintanya telah lebur

bersama napas mentari.”

 

Kupetik Bilwa Lubdaka

 

pohon rindu yang kau tumbuhkan dalam hati

masihkah kau rawat di senja ini?

 

ingin kupetik bilwa yang kau panjat

dengan wajah pucat

yang kau luruhkan sebening cintamu

dalam ribuan dekapan permainan hidup

 

“Jika kau langkahkan kaki menuju arah mentari

jangan lupa singgah di simpang hatimu

yang terbagi dalam bentangan rindu sunyi

yang kau rawat bersama sepi.”

 

beri aku waktu mendekap kisahmu

akan kusenandungkan di rahim bumi

yang tegak lurus pada langit

dan kau berdiri di sana

merangkul satwa

 

kau satukan jiwa sebening embun

kau tawarkan senyummu

entah ke mana cinta ini berlabuh

entah kapan, entah kapan cinta ini teduh

yang luluh di puncak sungguh

 

Lubdaka, masihkah ada rindu di ujung hatimu?

akan kudekap kisah kasih permainan sunyi

hanya kasih yang memurnikan diri

yang mewujud dari sunyimu

 

Semarapura, 2020

 

Bilah-bilah Daun Lontar


pangrupak tua yang kau wariskan

menggoreskan namamu

Wagiswari Saraswati hyanghyanging kalangon

kau sapa setiap yang rindu padamu

dengan wajah cinta tanpa imbalan

 

dalam putaran japa kusebut namamu

walau tak seindah yang kau harap

inilah baktiku tak sesempurna dirimu

kekasih

 

setiap kata bergetar

dalam bilah-bilah daun lontar

tiada sempat kubaca penuh

karena kau tanpa tertulis

tanpa awal tanpa akhir

hanya sepi di hati yang bertaut

 

berilah aku rindu padamu

akan kutulis kata buatmu

walau tak seutuhnya

karena kaulah yang seutuhnya

 

dalam bilah-bilah lontar

kupuja dirimu lewat napas

yang juga milikmu

berakhir juga padamu.

 

Semarapura, 2020

 

Jayaprana-Layonsari


di ujung keris kau murnikan cintamu

menentang kisah, meruat cinta

belum habis cerita bahagia yang kaurajut

kau peluk kebisuanmu pada hati

 

“Aku bukan kepingan berwarna hitam

tubuhku bukan kuasamu, aku Layonsari

yang menata diri bersama Jayaprana.

 

raja tua itu membuncahkan hasratnya.

ia ciptakan kegelapan di hatinya

butanya melaut

“Aku punya kuasa,” ucapnya

 

Layonsari tersenyum,

sorot matanya memerah

“Ini cintaku bukan kuasamu.”

ia cabut darah cintanya

bersama alunan nada abadi

 

burung-burung gagak mewartakan,

“Ini kisah sepasang kekasih

yang melarutkan cinta sepanjang waktu

di Teluk Terima, di Teluk Terima

cintanya abadi di langit bisu.”

 

Semarapura, 2020

 

________________________ 

IBW WIDIASA KENITEN dilahirkan di Geria Gelumpang, Karangasem, 20 Januari 1967. Menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Bali. Sebagian besar karyanya sudah diterbitkan menjadi buku. Meraih hadiah sastra Rancage (2006) dan Widya Pataka (2015). Buku terbarunya berupa kumpulan cerpen berbahasa Bali, Ngalih Arjuna di Kamasan, terbit April 2021 lalu. 
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Tonya Dadi Pedanda”: Penampilan Bisa Menipu

22 Mei 2022 - 21:51 WITA

Ketu Pedanda

Terang Bulan Pemberian [Cerpen I Made Ariyana]

18 Juni 2021 - 21:17 WITA

Humanisme dalam Balutan Budaya Bali: Membaca Kumpulan Cerpen “Tanah” IDK Raka Kusuma

7 Juni 2021 - 01:08 WITA

Lirikan Mata Perempuanku [Cerpen IBW Widiasa Keniten]

1 Juni 2021 - 22:55 WITA

Ritual Jarak [Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara]

31 Mei 2021 - 08:42 WITA

Dongeng Purba I Wayan Suartha dalam “Buku Harian Ibu belum Selesai”

27 Mei 2021 - 23:58 WITA

Trending di Sloka Bali