Menu

Mode Gelap
Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih “Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan Walau tak Dibuka Presiden, PKB ke-44 (Mestinya) Tetap Keren

Bali Iloe · 9 Mei 2015 22:50 WITA ·

Hari Ini HUT ke-811 Kota Bangli, Begini Sejarahnya


					Hari Ini HUT ke-811 Kota Bangli, Begini Sejarahnya Perbesar

Hari ini, Minggu (10/5), masyarakat Bangli merayakan hari jadi atau HUT ke-811 Kota Bangli. Perayaan ini berlangsung sejak tahun 1991. Penetapan tanggal 10 Mei sebagai hari jadi Kota Bangli merunut pada prasasti Kehen C. yang dikeluarkan Raja Shri Adi Kunti Kentana pada tahun saka 1126 atau tahun 1204 masehi. Mengapa tanggal itu dipilih sebagai hari jadi Kota Bangli? Bagaimana sejarah Bangli?
I Nyoman Singgin Wikarman dalam buku Bangli Tempo Doeloe (Sebuah Kajian Sejarah) menguraikan prasasti Kehen C (Singgin Wikarman menyebutnya Kahen, bukan Kehen) memang yang pertama kali menyebut nama Bangli. Prasasti itu dikeluarkan Raja Shri Adi Kunti Ketana pada tahun 1204 Saka. Tepatnya, “Ri Caka 1126 Waisakamasa Tithi Dasami Suklapaksa, Wu, Wa, Ra, Waraning Klurut”. Menggunakan perhitungan Damais, catatan waktu dalam prasasti itu bertepatan dengan 10 Mei 1204.

Pura Kehen, tempat tersimpannya prasasti Pura Kehen C yang pertama kali menyebut nama Bangli
Dalam prasasti yang kini tersimpan di Pura Kehen itu, tulis Singgin Wikarman, termuat perintah raja yang disampaikan kepada putranya agar orang-orang Bangli tidak meninggalkan desanya. Raja meminta agar rumah-rumah rakyat diperbaiki dan lahan sawah serta pertanian dikerjakan. Bersamaan dengan perintah itu, raja juga memberikan keringanan bahkan penghapusan pajak kepada penduduk.
Situs resmi Pemkab Bangli, www.banglikab.go.id menguraikan perintah raja itu dikeluarkan karena Bangli kala itu ditinggalkan penduduknya. Sebabnya, Bangli diserang wabah penyakit yang hebat. Karena ketakutan, penduduk Bangli memilih pergi sehingga daerah itu pun menjadi kosong. Setelah raja melakukan berbagai upaya, keadaan kembali pulih. Raja pun mengeluarkan perintah agar orang-orang Bali kembali ke tempatnya.
Selain itu, raja juga menetapkan batas-batas wilayah Kramani Bangli yaitu Tegalsana dan Gelinggang di sebelah utara, Tegalalang, Tegal dan Bebalang di sebelah selatan, Tukad Sangsang di sebalah barat dan Tukad Melangit di sebelah timur. Penetapan batas-batas wilayah ini menunjukkan Bangli telah menjadi sebuah kesatuan wilayah dan diyakini sudah memiliki pemerintahan.
Namun, Bangli mendapat status baru sebagai panegara atau kerajaan vasal di bawah pusat pemerintahan langsung kerajaan Gelgel pada abad ke-15. Hal itu ditandai dengan pengangkatan I Gusti Wija Pulada sebagai Anglurah di Bangli pada soma Julungwangi, Sasih Kesanga Penanggal ping 9 Caka 1375. Jika dikomparasikan dengan tahun Masehi, maka saat pengangkatan tersebut yakni 14 Maret 1453 Masehi.
Puri Bangli yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Bangli, menurut Singgin Wikarman, didirikan tahun 1576 Masehi. Pendiri Puri Bangli, I Dewa Gde Bencingah, setelah I Gusti Peraupan dikalahkan Tamanbali dan Nyalian. Seabad kemudian, sekitar tahun 1686, ketika terjadi pemberontakan I Gusti Agung Maruti di Kerajaan Gelgel, Bangli pun menjadi kerajaan berdaulat.
Di antara sejumlah momentum itu, Pemkab Bangli didukung para sejarawan dan budayawan di Bangli memilih tanggal 10 Mei 1204 sebagai hari jadi Kota Bangli. Pertimbangannya, menurut Singgin Wikarman, prasasti Kehen C. menunjukkan Bangli ketika itu sudah menjadi sebuah kesatuan wilayah menyusul adanya penetapan batas-batas wilayah oleh raja.
Bangli kini mungkin tidak menjadi pusat perhatian di tengah perkembangan pesat perekomian Bali yang bertumpu pada pariwisata. Bangli yang mengandalkan sektor pertanian, di masa kini nyaris lepas dari perhatian Bali mutakhir.
Tapi, di masa silam, Bangli memiliki peran sangat penting. Bahkan, ada dugaan, kerajaan Singamandawa, kerajaan tertua di Bali, berpusat di Bangli, khususnya di seputaran Kintamani.
Siapa pun yang hendak mempelajari Bali Kuno, tidak bisa mengabaikan Bangli. Pasalnya, banyak prasasti dari masa Bali Kuno tersimpan di Bangli. Jejak-jejak tua peradaban Bali mesti dilacak dengan menjelajahi desa-desa tua di sekitar Danau Batur, seperti Kintamani, Sukawana, Trunyan, Kedisan, Abang, Kedisan, Buwahan dan desa-desa lain di wilayah Bangli, seperti Pengotan, Sidembunut, Srokadan, Serai, Manikliu, Candigayan.  (b.)

Teks dan Foto: I Made Sujaya
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

24 Mei 2022 - 23:12 WITA

Membaca Pesan Perang Jagaraga

9 Juni 2021 - 03:47 WITA

“Bulan Pejeng”: Bulan yang Jatuh, Subeng Kebo Iwa atau Mas Kawin?

25 Mei 2021 - 23:02 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930
Trending di Bali Iloe