Menu

Mode Gelap
Kebun Jagung di Beranda Kelas: Catatan dari Pelatihan Menulis bagi Guru dan Siswa SMKN 1 Petang Digelar 23-25 Juli 2024, Rare Bali Festival Usung Tema “Tribute to Made Taro” Mengenang Kembali Dedikasi Maestro I Gusti Nyoman Lempad Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

Cakepan · 4 Apr 2015 03:33 WITA ·

Di Balik Mitologi Kala Rahu dalam Fenomena Gerhana Bulan Total


					Di Balik Mitologi Kala Rahu dalam Fenomena Gerhana Bulan Total Perbesar

Perhatian orang sejagad kini tertuju ke angkasa raya menyaksikan fenomena gerhana bulan total (blood moon) yang bakal terjadi, Sabtu (4/4) sore ini. Meski secara astronomi, gerhana bulan merupakan peristiwa alam biasa, masyarakat tetap saja memberi perhatian khusus pada peristiwa semacam ini. Terlebih lagi, hampir semua masyarakat di berbagai belahan dunia ini memiliki mitologi tersendiri mengenai terjadinya gerhana bulan. 


(Baca: Gerhana Bulan Besok Sore, Begini Ramalan Tradisi Bali

Masyarakat Bali juga memiliki mitologi khusus mengenai terjadinya gerhana bulan. Tradisi lisan di Bali menyebut terjadinya gerhana bulan karena bulan dimakan Kala Rahu, raksasa yang hanya memiliki kepala. Masyarakat Jawa juga mengenal mitologi serupa.
Kisah Kala Rahu ini menjadi bagian akhir cerita Kurma Awatara (penjelmaan Dewa Wisnu sebagai kura-kura untuk menyelamatkan dunia). Dikisahkan, dalam upaya mendapatkan tirtha amertha (air keabadian), para dewa dan asura (raksasa) bekerja sama mengaduk lautan susu (Ksirarnawa) dengan cara memutar Gunung Mandara. Kala itulah, Dewa Wisnu menjelma kurma (kura-kura) untuk menahan pangkal gunung Mandara. Tirtha amertha pun didapat. Tapi, pertarungan terjadi antara para dewa dan asura untuk memperebutkan tirtha amertha itu. Dalam pertarungan itu, asura menang dan menguasai tirtha amertha.
Dewa Wisnu pun bersiasat untuk merebut kembali tirtha amertha. Sang Dewa pun berubah menjadi wanita cantik hingga bisa mengelabui para asura. Tirtha amertha pun kembali ke tangan para dewa.

Kini, para dewa berkumpul untuk menikmati tirtha amertha. Namun, ada seorang raksasa, Kala Rahu berhasil menyusup dengan menyamar sebagai dewa. Penyamarannya itu diketahui Dewa Chandra. Tatkala giliran meminum tirtha amertha sudah sampai ke Kala Rahu yang menyamar sebagai dewa, Dewa Chandra pun berteriak. “Dia bukan dewa, dia raksasa yang menyamar menjadi dewa!” teriak Dewa Chandra.
Para dewa pun terkejut. Tirtha amertha sudah diminum dewa palsu. Tapi, tirtha amertha itu baru sampai di tenggorokannya. Dewa Wisnu pun melepaskan senjata cakra sudarsana dan memenggal leher Kala Rahu. Tubuh Kala Rahu pun jatuh ke bumi, sedangkan kepalanya hingga bagian leher tetap abadi dan melayang-layang di angkasa karena sempat meminum tirtha amertha.
Merasa penyamarannya terbongkar, Kala Rahu marah besar. Dia pun bersumpah akan menyantap Dewa Chandra yang berwujud bulan. Sumpahnya itu memang terwujud. Tapi, karena Kala Rahu tidak memiliki tubuh, Dewa Chandra muncul kembali. Kejadian ini selalu berulang dan dikenal sebagai gerhana bulan.
Di masa lalu, masyarakat Bali dan Jawa, biasanya akan memukul kentongan saat gerhana bulan terjadi. Hal ini, konon, dimaksudkan untuk mengusir Kala Rahu agar tidak berlama-lama memakan sang rembulan.
Banyak orang kini tentu menganggap kisah ini sebuah dongeng yang tak masuk akal. Namun, dalam masyarakat tradisional, dongeng atau mitologi merupakan bentuk pengetahuan lokal yang penting sebagai cara untuk menjelaskan sebuah fenomena alam. Di balik mitologi kerap kali terselip pesan-pesan sosial-kultural yang sangat bergantung pada latar belakang budaya masyarakat pendukungnya.
(Baca: Ini Makna Gerhana Matahari dan Bulan Menurut Tradisi Bali

Ada yang memaknai mitologi Kala Rahu sebagai pesan spiritual tentang pertarungan dalam diri manusia: sifat-sifat kedewaan dan keraksasaan. Manakala sifat-sifat keraksasan masih menguasai, keabadian tak akan didapat.
Namun, ada juga yang memaknai mitologi Kala Rahu sebagai simbolisasi kuasa waktu. Kala, dalam tradisi Bali, memang merepresentasikan sang waktu. Tiada yang mampu menahan kuasa waktu. (b.)
_________________________________

Penulis: Ketut Jagra
Foto: Repro
Penyunting: I Made Sujaya
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 180 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Begini Hari Baik Berhubungan Intim Menurut Lontar “Pameda Smara”

11 Mei 2021 - 23:37 WITA

Jalan Selamat Manusia di Zaman Kali Yuga Menurut Lontar Catur Yuga

2 Juli 2020 - 23:58 WITA

Mau Beli Kendaraan Bermotor? Ini Hari Baik Menurut Tradisi Bali

18 Oktober 2015 - 00:30 WITA

Watugunung, Kisah Sang Penakluk dari Kundadwipa

5 Agustus 2013 - 09:59 WITA

Pasek Badak, Takluk Tanpa Tunduk

27 Februari 2011 - 08:15 WITA

Kisah Berguncangnya Naga Anantaboga dan Naga Basuki: Gempa Menurut Kepercayaan Bali

23 Desember 2009 - 09:47 WITA

Trending di Cakepan