Menu

Mode Gelap
“Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih

Resensi · 29 Nov 2014 22:36 WITA ·

Lawar Goak: Kisah Bali yang Benar-benar Bali


					Sampul buku kumpulan cerpen berbahasa Bali, Lawar Goak. Perbesar

Sampul buku kumpulan cerpen berbahasa Bali, Lawar Goak.

Jika ingin menemukan kisah Bali yang benar-benar Bali, buku kumpulan cerpen berbahasa Bali Lawar Goak karya Ketut Rida ini layak dibaca. Kebalian Lawar Goak tidak saja tercermin dalam bahasa yang digunakan tapi juga pilihan tematik ceritanya yang amat khas Bali.

Ketut Rida memang dikenal sebagai pengarang Bali modern dengan kekuatan utamanya pada bahasa Bali yang digunakan. Bahasa Bali Ketut Rida tidak hanya berasal dari ragam standar sehingga bisa dipahami penutur bahasa Bali secara umum, pilihan kata dan metaforanya juga sederhana.

Karya-karyanya memilih ragam basa kepara, ragam bahasa umum dan bersifat medial, bukan ragam alus. Itu sebabnya, suasana egaliter amat terasa dalam cerpen-cerpen Ketut Rida.

Tema-tema cerita Ketut Rida juga amat sederhana dan terasa nyaris tanpa konflik. Cerpen-cerpen Ketut Rida seolah mewakili dunia orang Bali yang sarat dengan harmoni dan keseimbangan.

Tema-tema keseharian manusia Bali itu dibalut dengan pesan-pesan moral kental. Hal ini tampaknya dikarenakan latar belakang Ketut Rida sebagai seorang guru serta pernah bertugas menjadi tetua adat di desanya, Sulang, Klungkung.

Cara bertutur Ketut Rida juga begitu khas layaknya pertunjukan drama tradisional Bali, arja. Diawali dengan gambaran suasana alam yang tenang. Setelah itu barulah secara perlahan Ketut Rida menuturkan problematika ceritanya. Itu pun amat pelan sehingga boleh jadi terasa membosankan.

Justru, di situlah kekuatan seorang Ketut Rida. Kisah-kisahnya dalam buku ini merupakan kisah yang benar-benar Bali. Pembaca yang selama ini mengeluh karena merasakan sastra Bali modern belakangan ini tak lebih sebagai sastra Indonesia modern yang menggunakan bahasa Bali sebagai medium akan bisa mengobati kerinduannya dalam buku ini.

Karena itu, tidak salah jika tim kurator Widya Pataka menobatkan buku Ketut Rida sebagai penerima penghargaan itu untuk tahun 2014 ini. Widya Pataka merupakan penghargaan tahunan yang diberikan Pemerintah Provinsi Bali melalui Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Bali. (b.)

Judul Buku                : Lawar Goak

Pengarang                  : Ketut Rida

Penerbit                      : Arti Foundation

Tahun                         : 2014

Jumlah Halaman       : viii + 154 halaman

  • Penulis: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Tonya Dadi Pedanda”: Penampilan Bisa Menipu

22 Mei 2022 - 21:51 WITA

Ketu Pedanda

Terang Bulan Pemberian [Cerpen I Made Ariyana]

18 Juni 2021 - 21:17 WITA

Humanisme dalam Balutan Budaya Bali: Membaca Kumpulan Cerpen “Tanah” IDK Raka Kusuma

7 Juni 2021 - 01:08 WITA

Lirikan Mata Perempuanku [Cerpen IBW Widiasa Keniten]

1 Juni 2021 - 22:55 WITA

Ritual Jarak [Sajak-sajak Wayan Esa Bhaskara]

31 Mei 2021 - 08:42 WITA

Dongeng Purba I Wayan Suartha dalam “Buku Harian Ibu belum Selesai”

27 Mei 2021 - 23:58 WITA

Trending di Sloka Bali