Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Pagerwesi · 8 Okt 2014 02:39 WITA ·

Pagerwesi, Hari Guru ala Bali


					Pagerwesi, Hari Guru ala Bali Perbesar

Hari Pagerwesi yang dirayakan umat Hindu pada Buda Kliwon wuku Sinta, Rabu (8/10) hari ini sejatinya merupakan hari guru ala Bali. Pasalnya, saat Pagerwesi yang dipuja adalah Sang Hyang Siwa sebagai Sanghyang Pramesti Guru atau guru alam semesta. Pandangan ini dikemukakan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat yang juga penulis buku-buku agama Hindu, I Ketut Wiana kepada balisaja.com, Rabu (8/10) pagi. 

“Setelah kita mendapatkan anugerah ilmu pengetahuan pada hari Saraswati, hari ini umat Hindu memuliakan guru. Secara simbolik itu diwujudkan dengan memuja Sanghyang Siwa sebagai guru alam semesta. Dalam konsep Hindu, Tuhan memang guru tertinggi,” kata Wiana. 

(Baca juga: Pagerwesi, Saat Manusia Bali Memuja Sang Guru Semesta

Di India, imbuh tokoh masyarakat Bualu, Nusa Dua ini, juga dilaksanakan perayaan serupa, yakni hari Guru Purnima. Makna perayaannya juga tidak jauh berbeda dengan perayaan Pagerwesi di Bali.

Menurut Wiana, perayaan Pagerwesi sebagai hari guru dimaksudkan mengingatkan seluruh umat manusia agar berperan menjadi guru bagi diri dan lingkungannya masing-masing. Dalam ajaran Hindu, seorang guru yang baik menerapkan konsep guna tita, yaitu menumbuhkan sifat-sifat baik, dan rupa warsita, yaitu menjaga kesehatan dan kesejahteraan. 

Mengenai perayaan Pagerwesi di Bali yang berbeda-beda, terutama adanya kemeriahan khusus di kawasan Buleleng Timur, Wiana mengatakan hal itu merupakan hal yang biasa terjadi dalam Hindu. Perayaan hari Galungan misalnya, tidak di semua daerah di Bali disambut begitu meriah. Di sejumlah desa Bali Aga, seperti Tenganan Pagringsingan, perayaan Galungan tak semeriah daerah-daerah lain di Bali.

“Itu lebih bersifat tradisi lokal. Kalau tradisi lokal, biasanya karena berbagai faktor. Misalnya, pengaruh yang kuat dari tokoh lokal di masa lalu,” kata Wiana. 

Yang terpenting, imbuh Wiana, meskipun berbeda-beda, makna perayaan Pagerwesi tetap sama, yakni menghaturkan rasa syukur atas bimbingan guru alam semesta, Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Sanghyang Pramesti Guru. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 168 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Banyupinaruh”: “Malukat” Dahulu, “Nyurud Nasi Pradnyan” Kemudian

21 Mei 2023 - 08:18 WITA

Pamacekan Agung, Titik Temu Galungan-Kuningan

9 Januari 2023 - 11:54 WITA

Hari Ini Nyepi Segara di Kusamba, Begini Sejarah, Makna, dan Fungsinya

9 November 2022 - 08:17 WITA

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Trending di Sima Bali