Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Iloe · 1 Mei 2014 21:51 WITA ·

Inilah Sekolah Pertama di Bali yang Turut “Andil” Dalam Kelahiran Soekarno


					Inilah Sekolah Pertama di Bali yang Turut “Andil” Dalam Kelahiran Soekarno Perbesar

Oleh: I MADE SUJAYA
Perkenalan masyarakat Bali dengan dunia pendidikan modern hampir tidak jauh berbeda dengan masyarakat daerah-daerah lainnya di Indonesia. Mereka mengenal pendidikan ala Barat setelah masuknya penjajah Belanda. Dilandasi tujuan menyiapkan calon pegawai dari kalangan bumi putera, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun sekolah sekitar pertengahan abad ke-19. 

SDN 1 dan 2 Pakset Agung. (balisaja.com/buleleng.org) 

Di Bali, sekolah pertama didirikan pada tahun 1875 di Kota Singaraja, Buleleng, Bali Utara. Sekolah pionir itu bernama Tweede Klasse School. Ini merupakan sekolah pribumi kelas dua.

Seperti dikutip dari buleleng.org, sekolah pertama di Bali ini terletak di sebelah timur kantor Bupati Buleleng sekarang. Kini, sekolah ini telah menjadi sekolah negeri dengan nama SDN 1 Paket Agung.  

Sekolah pertama di Bali ini juga disebut-sebut turut memiliki “andil” dalam kelahiran Presiden I RI, Dr. Ir. Soekarno. Pasalnya, di sekolah inilah ayah Soekarno, Raden Soekemi Sostrodihardjo mengajar dan bertemu Ni Nyoman Rai Srimben yang rumahnya tidak jauh dari sekolah ini. Soekemi kemudian menyunting Rai Srimben. Dari perkawinan merelah kemudian lahir Soekarno. 

Sejarawan AA Gede Putra Agung dan I Nengah Musta dalam buku Sejarah Pendidikan di Bali menguraikan pada tahun 1914, Belanda juga membuka Hollands Inlandsche School (HIS) di Singaraja dan disusul di Denpasar untuk Bali Selatan pada tahun 1918. Meski sama-sama sekolah pribumi, tetapi HIS berbeda dengan Tweede Klasse School karena yang boleh masuk ke HIS hanyalah dari kalangan bangsawan, seperti keluarga raja dan punggawa. Di HIS, mereka tidak hanay diajar membaca, menulis dan berhitung, juga diberikan pelajaran bahasa Belanda dan bahasa Melayu. 

Bersamaan dengan pendirian HIS, di Buleleng juga dibuka Holandsch Chineesche School, sekolah khusus untuk orang-orang Tionghoa. Kala itu, orang-orang Tionghoa sudah cukup banyak bermukim di Singaraja dan dikenal dengan sebutan Singkeh. Mereka sejak lama berperan sebagai pedagang dan kerap juga menjadi “juru bahasa” orang Belanda kala berhubungan dengan penguasa Bali.

Di Singaraja juga didirikan Hogere Middelbare School (HMS) pertama di Bali, sejenis Sekolah Menengah Atas). Kini, sekolah ini bernama SMAN 1 Singaraja.

Dipilihnya Singaraja sebagai lokasi pendirian sekolah pertama di Bali tampaknya erat kaitannya dengan penetapan kota ini sebagai ibukota Keresidenan Bali dan Lombok oleh Pemerintah Hindia Belanda. Secara resmi Singaraja ditetapkan sebagai ibukota Keresidenan Bali dan  Lombok pada tahun 1882, tetapi sebelum itu, Singaraja sudah menjadi pusat kegiatan Pemerintah Hindia Belanda di Bali dan Lombok. (b.)

__________________________ 

Penyungting: KETUT JAGRA
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 82 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

24 Mei 2022 - 23:12 WITA

Membaca Pesan Perang Jagaraga

9 Juni 2021 - 03:47 WITA

“Bulan Pejeng”: Bulan yang Jatuh, Subeng Kebo Iwa atau Mas Kawin?

25 Mei 2021 - 23:02 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930
Trending di Bali Iloe