Menu

Mode Gelap
Menguak Hegemoni Teks Ilmiah di Kampus: Catatan Safari Literasi di UPMI Bali Pasraman Hindu Mesti Modern Tanpa Meninggalkan Tradisi Sebulan Pesta Bahasa Bali, Apa Saja Hasilnya? Alih Media Digital Agar Aksara Bali tak Jadi Momok Generasi Milenial Pamacekan Agung, Titik Temu Galungan-Kuningan

Rerahinan · 6 Des 2013 20:48 WITA ·

Benarkah Tumpek Krulut sebagai Hari Kasih Sayang ala Bali?


					Ayah dan Anak-anaknya Perbesar

Ayah dan Anak-anaknya

Beberapa tahun terakhir, hari suci Tumpek Krulut diberi makna baru sebagai hari kasih sayang. Tumpek Krulut yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Krulut, Sabtu, 7 Desember 2013 hari ini lantas dianggap layaknya hari Valentine khas Bali. Benarkah Tumpek Krulut memang merupakan hari kasih sayang?

Cendekiawan Hindu, Drs. I Ketut Wiana, M.Ag., membenarkan makna Tumpek Krulut memang berdekatan dengan perayaan cinta atau kasih sayang.

“Makna perayaan Tumpek Krulut memang kasih sayang. Kata krulut berasal dari kata lulut yang artinya ‘senang’ atau ‘cinta’ yang bisa disejajarkan dengan makna sayang,” kata pensiunan dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini.

Menurut Wiana, makna Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang itu ditunjukkan dengan adanya sarana banten sekartaman yang dihaturkan saat Tumpek Krulut. Dalam pemahaman Wiana, banten sekartaman merupakan bentuk ungkapan rasa sayang kepada siapa saja yang memunculkan energi positif dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Di India, imbuh Wiana, juga ada tradisi peringatan hari kasih sayang. Di tanah kelahiran agama Hindu itu ada hari Raksa Banda atau pun Walmiki Jayanti. Raksa Banda merupakan hari untuk mengukuhkan ikatan cinta, kasih dan sayang di antara pasangan suami-istri, laki-laki dan perempuan. Pada hari Raksa Banda itu, sang lelaki diberikan tetebus berupa benang, pihak perempuan diberikan gelang. Tatkala hari Walmiki Jayanti, anak-anak hingga yang masih muda akan mempersembahkan bunga kepada orang yang lebih tua.

Namun, masyarakat Hindu Bali selama ini merayakan hari Tumpek Krulut sebagai hari piodalan segala jenis gamelan. Selain itu, saat Tumpek Krulut juga kerap dipilih sebagai hari piodalan palinggih panyarikan di banjar. Karena itu, acap kali ditemui, saat hari Tumpek Krulut dilaksanakan upacara piodalan di banjar-banjar.

Penulis buku-buku agama Hindu, Dra. Ni Made Sri Arwati dalam buku Rahina Tumpek tidak secara jelas menyebut Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang. Arwati hanya menyebutkan yadnya saat hari Tumpek Krulut jika dicermati secara mendalam sesungguhnya sebagai sarana memunculkan rasa saling asih, asah dan asuh di antara sesama manusia melalui sarana seni gamelan atau tetabuhan, karya cipta Hyang Widhi yang membuat rasa tertarik, senang, terpesona dalam kehidupan.

Namun, Ketua Yayasan Dharma Acarya, Drs. IB Putu Sudarsana, MBA., berpandangan Tumpek Krulut merupakan hari pemujaan taksu. Diakuinya, kata krulut diambil dari kata lulut. Akan tetapi, artinya bukanlah sayang berkaitan dengan hubungan antara laki-laki dan perempuan, suami-istri atau pun sepasang kekasih. Rasa senang atau kasih itu berhubungan dengan kharisma utau wibawa yang menyebabkan orang lain tertarik.

Pemaknaan yang lebih segar terhadap suatu hari raya keagamaan memang suatu hal yang penting dilakukan sepanjang tidak jauh beranjak dari dasar sastra yang mendasari munculnya hari raya itu. Pemaknaan Tumpek Krulut sebagai hari kasih sayang tampaknya menunjukkan adanya pemaknaan baru terhadap hari raya agama Hindu di Bali. Namun, sejauh mana pemaknaan itu dilegitimasi oleh teks-tek susastra Hindu? (b.)

  • Laporan I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 67 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pamacekan Agung, Titik Temu Galungan-Kuningan

9 Januari 2023 - 11:54 WITA

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

“Ngerebeg” di Tegalalang: Menyucikan Desa dan Memohon Agar Pandemi Berakhir

20 Mei 2021 - 14:49 WITA

Pujawali di Pura Silayukti, Begini Dudonan Upacaranya

19 Mei 2021 - 01:27 WITA

“Mulih” dan Berbagi di Hari Galungan

19 Februari 2020 - 00:11 WITA

Trending di Rerahinan