Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Iloe · 14 Agu 2013 04:12 WITA ·

Asal Mula Nama Bali


					Peta Pulau Bali Perbesar

Peta Pulau Bali

Penceramah sekaligus penulis buku-buku agama Hindu, I Ketut Wiana pernah menulis buku dengan judul Mengapa Bali Disebut Bali? Dalam buku itu, Wiana mencoba menjelaskan makna kata Bali sebagai wujud harapan para leluhur yang menamai pulau mungil berbentuk palu godam ini dengan nama Bali.

Pertanyaan tentang mengapa Bali disebut Bali disusul kemudian dengan pertanyaan sejak kapan sejatinya Bali sebagai nama pulau mungil dikenal dengan nama Bali? Pertanyaan ini hingga kini masih sulit ditelusuri. Sumber-sumber historis belum memberikan informasi tuntas mengenai permulaan pulau berbentuk palu godam ini bernama Bali. Sumber-sumber tersebut memberi nama yang berbeda-beda.

IB Putu Bangli dari Griya Taman Bali, Desa Adat Sanur Kaja menguraikan tiga nama untuk Pulau Bali yakni wali, bali, dan banten. Sebagaimana ditulisnya dalam buku, Mutiara dalam Budaya Hindu Bali(2005) ketiga istilah itu memiliki makna yang sama yakni ‘persembahan’.

Jika merunut prasasti-prasasti yang ditemukan di Bali, ketiga nama itu memang paling banyak disebut. Dalam Prasasti Blanjong yang berangka tahun 835 Saka  (913 Masehi) tertera kata ‘walidwipa’. Prasasti Blanjong disebut-sebut sebagai prasasti tertua yang ditemukan di Bali.

Sementara itu, pada Prasasti Gobleg, Pura Desa II yang berangka tahun 905 Saka (983 Masehi) ditemukan kata ‘bali’. Dalam prasasti ini ditemukan kata-kata “…..siwyan…..dini di Bali….” yang artinya ‘dihormati di sini di Bali’.

Kata ‘bali’ untuk menyebut nama Pulau Bali ini juga ditemukan ditemukan dalam Prasasti Raja Jayapangus antara lain dalam prasasti Buahan D (1103 Saka). Dalam prasasti ini ditemukan kalimat berbunyi, “…..pinaka pangupajiwaning jiwa jiwa wardhana ring BaliDwipa”…..yang artinya ‘merupakan sumber penghidupan demi pertumbuhan setiap penduduk di Pulau Bali.

Jika dicermati, ada kesamaan antara kata wali dan bali. Dalam bahasa Bali, fonem ‘w’ dan ‘b’ berkorespondensi atau memiliki kepadanan. Contoh mengenai hal ini dapat dilihat pada kata weringin dan beringin, waruna dan baruna, wanwa dan banwa. Karena itu, maka kata wali dan bali sejatinya sama.

Selain wali dan bali, ada juga kata lain yang dipakai menamakan Pulau Bali yakni banten. Hal ini, menurut IB Bangli, dapat ditemukan dalam prasasti Tengkulak A yang bertahun Saka 945 (1023 Masehi). Prasasti ini memuat kata-kata “……siniwi ring desa banten….” yang artinya “dihormati di Pulau Bali”.

Sebutan Banten ditemukan pula dalam kaitannya dengan nama salah seorang raja Bali Kuna yang ditemukan dalam prasasti Langgahan yang bertahun Saka 1259 (1337 Masehi). Raja Bali Kuna ini bernama Paduka Batara Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yang dapat diartikan, raja ibarat delapan dewa (penguasa arah mata angin) sebagai permatanya Pulau Banten.

Kata banten pun, menurut IB Bangli, memiliki makna yang sama dengan wali dan baliyakni ‘persembahan’. Kata Bali dianalogikan dengan perubahan kata sebagai bentuk ungkapan halus dalam Bahasa Bali seperti kata sari dengan santen (sari), negari dengan negantun (negara), sesari dengan sesantun (isi) inti dari persembahan, kari dengan kantun (masih).

Wiana menyebut sumber tertua yang menggunakan istilah Bali adalah kitab Rgveda pada bagian kitab Satapatala Brahmana 11.5.6.1. Karena itu istilah Bali bukan hanya digunakan menamakan pulau Bali saja. Jauh sebelumnya kata Balidigunakan untuk menyebutkan banyak hal terutama dalam kebudayaan Bindu India.

“Upacara ynag ditujukan kepada bhuta (unsur yang membentuk alam) disebut juga Bali oleh kitab Rg Veda.  Begtitu juga dalam kitab Manawa Dharmasastra. III. 70. 74. dan 81, kata Wiana.

Di dalam kitab itihasa dan purana juga banyak dijumpai istilah Bali. Misalnya dalam Wisnu Purana dan Matsya Purana menceritakan Maha Bali Putra dari Wairocana dan cucu Prahlada. Adajuga cerita Bhagawata Purana Raja Bali yang mendapatkan penyupatan dari Wamana penjelmaan Dewa Wisnu. Di dalam kitab Siwa Purana disebutkan Dewa Siwa bereinkarnasi menjadi Raja Bali di pertapaan Balakhilya di Gunung Gandhamadana selama periode 14 Manu.

Karena itulah, Wiana berpendapat istilah Bali yang dipakai sekarang bukan berasal dari bahasa Bali. Nama Bali sebagai nama pulau maupun sebagai nama Menurut Wiana, Bali berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya ‘kekuatan yang maha agung’ (the powerfull).

“Pengaruh kebudayaan India di Indonesia termasuk Balisudah sangat tua sehingga  sangat sulit melacak kapan pulau kita ini mulai bernama Bali,” kata Wiana.

Namun, sejumlah sumber babad juga menyebut nama bangsul untuk nama Pulau Bali. Para pedagang Cina menyebut dengan nama berbeda, dwapatan.

Para pelaut asing sendiri baru mengenal Bali mulai abad ke-16. Awalnya, seorang pelaut Portugis, Fernao Mendez Pinto menyebut Balisebagai Java Minor. Malah dia sempat menyangka Balisebagai bagian dari kerajaan Demak.

Namun, umumnya pelaut-pelaut asing mengenal Bali dalam nama yang beragam. Ada yang menyebut Balleatau Ilha Bale. Pelaut asal Belanda yang pernah singgah di Bali, Cornelis de Houtman mengenal pulau mungil ini dengan nama Baelle. (b.)

Penulis: I Ketut Jagra

Artikel ini telah dibaca 319 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Udayana: Raja Bali Kuno yang Terbuka dan Mau Mendengar Suara Rakyat

26 Mei 2022 - 22:18 WITA

Negara Mungkin Belum Mengakui, Tapi Dewa Agung Istri Kanya Tetap Pahlawan di Hati Rakyat Klungkung

24 Mei 2022 - 23:12 WITA

Membaca Pesan Perang Jagaraga

9 Juni 2021 - 03:47 WITA

“Bulan Pejeng”: Bulan yang Jatuh, Subeng Kebo Iwa atau Mas Kawin?

25 Mei 2021 - 23:02 WITA

Detik-detik Perang Kusamba 24-25 Mei 1849

24 Mei 2021 - 01:27 WITA

Menengok Krisis Ekonomi Bali Pada Masa Depresi Global 1930-an

21 Mei 2021 - 23:17 WITA

Penduduk Bali 1930
Trending di Bali Iloe