Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Keto Kone · 15 Mar 2011 10:29 WITA ·

Foto Bertiga bisa Celaka?


					Anak-anak Bali difoto oleh seorang wisatawan asing. Perbesar

Anak-anak Bali difoto oleh seorang wisatawan asing.

Saat Umanis Galungan baru-baru ini, Wayan Tuwah Aukud mengajak keluarganya malali (liburan) ke Kebun Raya Bedugul, Tabanan. Selain istri dan putri semata wayangnya, Wayan juga mengajak ayah dan ibunya. Setelah seharian bersembahyang keliling pura di hari Galungan, Wayan ingin mengajak keluarganya bersantai ria, menikmati sejuknya hawa Kebun Raya Bedugul.

Seperti lazimnya orang berlibur, Wayan pun tak lupa membawa kamera saku digital untuk mengabadikan momen-momen menarik selama malali. Wayan memang selalu ingat dengan benda yang satu itu. Menurut Wayan, setiap momen kebersamaan dengan keluarga pantas untuk diabadikan.

Begitu tiba di Bedugul, Wayan sudah jeprat sana, jepret sini. Putrinya yang baru duduk di kelas IV SD itu tiada henti disuruhnya berpose di depan kamera, lalu dijepretnya. Semua yang menyaksikan ikut senang. Apalagi ulah Putu Diantini –begitu nama putri Wayan—bergaya di depan kamera cukup lucu.

Sampailah kemudian saat Putu Diantini ingin berpose diapit oleh kakek dan neneknya. Tentu saja kakek dan nenek itu girang ingin berfoto bersama cucu kesayangannya. Namun, baru saja Wayan hendak menjepretkan kamera, istrinya, Nyoman Nuratni berteriak, “Jangan!”

“Lo, kenapa, Man?” tanya Wayan.

“Tak boleh berfoto bertiga,” kata Nyoman.

“Memangnya kenapa?” Wayan penasaran.

“Yang berada di tengah-tengah bisa celaka,” ujar Nyoman.

“Ah, itu hanya tahyul,” tepis Wayan.

Ayah dan ibu Wayan terpengaruh dengan apa yang dikatakan menantunya. Mereka pun menolak difoto bertiga.

“Betul itu, Yan. Tak boleh berfoto bertiga. Bapa juga pernah dengar begitu,” ujar sang Ayah dengan mimik serius.

“Kalau gitu tak jadi dong ambil fotonya?” tanya Wayan.

“Jadi, tapi jangan bertiga. Kita berlima saja. Ayah, ibumu, kamu, istrimu dan Putu. Suruh orang lain menjepretkan kameranya,” saran sang Ayah.

Namun, belum niat untuk berfoto berlima itu dilaksanakan, putri Wayan sudah keburu menangis. Dia tak mau berfoto berlima. Dia ngotot minta difoto dengan diapit kakek dan neneknya.

”Pokoknya Putu mau difoto diapit kakek ama nenek,” kata Putu dengan tampang cemberut.

“Tapi, kata kakek dan ibu, tak boleh berfoto bertiga. Nanti Putu yang ada di tengah-tengah bisa celaka,” bujuk sang Ayah.

“Celaka gimana? Masa cuma karena berfoto bisa celaka? Putu nggak percaya. Bapak bohong,” kata Putu tak percaya.

Agar tak terus-terusan ngambek, Wayan pun mau menuruti keinginan putrinya itu. Namun, Wayan menyiasati dengan menjepretkan kamera saat ada seseorang melintas di belakang putrinya dan kedua orang tuanya.

Begitu hasilnya dilihat di kamera, Putu kembali ngambek. Pasalnya, dilihat ada orang lewat di belakangnya. Putu ingin difoto ulang.

Wayan saling pandang dengan ayah, ibu dan istrinya. Mereka diliputi rasa waswas karena takut putrinya akan celaka setelah difoto bertiga.

Namun, demi mencegah putrinya ngambek kembali, Wayan kembali memfoto putrinya bersama kedua orangtuanya. Sayangnya, begitu akan memencet tombol klik, ternyata kameranya macet. Baterai kamera pun dibuka lalu dipasang lagi, tetapi kamera tetap tak bisa dijepretkan.

“Wah, kameranya rusak, Tu,” kata Wayan.

Dengan wajah cemberut, Putu mengambil kamera itu dari tangan ayahnya. Dia ingin tahu bahwa kamera itu memang benar-benar rusak. Setelah membolak-balik sendiri, Putu pun percaya kamera itu rusak.

“Yah, nggak jadi deh fotonya. Nanti aja ya, Pak,” kata Putu setengah kecewa.

Wayan juga penasaran mengapa kameranya tiba-tiba macet. Dia pun bertanya dalam diri, “Mungkinkah karena memang tak boleh berfoto bertiga?” Namun, dalam hati dia merasa plong. Dia merasa seperti baru saja terbebas dari bayang-bayang bahaya. (b.)

  • Penulis: Nyoman Samba
  • Foto: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 267 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Bantal Dibalik, Mimpi Indah Bisa Berlanjut?

6 Juni 2021 - 00:02 WITA

Bunyikan Klakson Saat Melintasi Jembatan

15 Mei 2021 - 22:02 WITA

Tidur “Sandikala” Bisa Disantap Batara Kala?

22 Agustus 2013 - 14:55 WITA

Trending di Keto Kone